Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDA Space Teens

Loading

Double Esspresso - His Ring

minmerry's picture


@ DOUBLE ESSPRESSO

 

08.17 AM, monday.

tring. tring. bunyi ringan lonceng yang ku pasang di depan pintu. tamu-tamu yang datang biasanya tidak pernah memperhatikan lonceng itu. Lonceng itu hadiah dari ayah, saat bertugas ke luar negri. warnanya keemasan dan berbunyi gemerincing lembut.

Tanpa terburu buru dia menghampiri meja bar-lebih tepatnya meja kopi"ku", dan duduk didepanku. tamu pertamaku hari itu.

"Esspresso, double"

"ditunggu" aku tersenyum.

ini expresso pertamaku pagi ini. pria ini tamu pertama. bukan mahasiswa. tidak. rambut cepak, rapi, jaket tebal, jeans usang, dari tampangnya, dia seharusnya pengedar narkotik atau pembunuh bayaran. Dan jelas sekali, aku bukan yang akan dia bunuh, jika benar. aku hanya gadis penunggu coffee shop.

'silahkan, esspresso, double'

Dia menatapku. ramah. aku akan memberikan diskon untuknya. pelanggan pertama selalu menjadi favoritku.

pagi selalu menarik. tidak buatku yang lemah menghadapi bangun pagi dan benci sekali dengan jam weker.

dia. pria itu. duduk didepanku cukup lama. dia tidak melihat kearahku. dengan demikian aku nyaman sekali melap semua gelas, mug-mug yang disukai tamu tamu. beneran, aku sangat hapal mug yang disukai tamu tamuku, setiap kalinya. tidak berlaku untuk pelanggan baru, tentunya.
gelas disusun berderet dengan gelas. mug dengab mug. gula, cream. duduk, melipat tangan diatas meja, merasakan mejaku terasa dingin, pagi ini cukup berembun.

Tring. ada yang datang.

nah, seorang wanita. dia menghampiri cowo pembunuh itu, maksudku cowo pengedar narkoba, aduh, ah sudahlah, pokoknya dia menghampiri cowo itu. 
 

lega, ternyata lelaki itu punya teman. atau kekasih.

karena, melihat si pembunuh bayaran itu uda tidak sendirian, aku bergegas ke dapur belakang untuk mengambil yoghurt dari lemari pendingin, sarapan pagiku. yoghurt rasa strawberry. bukan favoritku, sebenarnya. tercium hidungku, lantai coffee shop yang wangi, sebelum pulang, semalem, udah ngepel sampe mengkilat. wangi lavender.

coffee shop ini kecil. jika pagi rame, paling hanya 20 orang yang muat. tapi biasanya, bukan di jam pagi, sore, siang atau bahkan malam, kadang ada yang duduk untuk segelas latte atau moccha.

saat aku kembali dari dapur, wanita itu terlihat bertengkar dengan sang pembunuh bayaran. untuk suasana pagi coffee shop ku yang tenang, ini cukup mengagetkan. pembicaraan mereka terhenti saat aku datang.

aku berusaha untuk tidak mendengarkan.

mengambil yoghurtku, aku keluar dari coffee shop. duduk didepan, di depan coffee shop, ada meja meja kecil yang disukai tamu tamu mahasiswa, mereka yang datang berkelompok biasanya datang hanya untuk tempat mengobrol. bukan kopi buatanku. tapi, aku tetap senang dengan itu.

 beautiful cafe

aku duduk disana. memberikan waktu untuk kedua orang itu. pertengkaran dipagi hari, bukan yang kusukai. merusak mood.

20 menit. wanita itu keluar.

dia menatapku, matanya merah. terdiam, berdiri didepan pintu toko kesayanganku ini. mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu, entahlah.

aku merasa sesuatu telah terjadi. sesuatu yang buruk. aku bangkit dari kursi, terdorong niat untuk berbicara dengannya.

tapi aku hanya menatapnnya melangkah pergi. ini toh bukan urusanku, pikirku.

saat kembali ke dalam, pria iitu duduk diam. 

beberapa orang mulai berdatangan. dengan koran ditangan masing masing, beberapa adalah karyawan kantor disekitar coffee shop, kontraktor, aku mengenali wajah mereka.

melayani mereka..., saat mengantar latte, caramel choco, mocchacino, dll, ke meja meja mereka, akan disambut dengan lelucon atau sapaan yang hangat.

tanpa aku sadari, pria itu sudah pergi. aku kembali ke meja bar, dia meninggalkan selembar uang yang lebih dari cukup untuk segelas esspresso. dan sebuah cincin yang diletakkan diatas lembaran uang kertas itu.

cincin bertuliskan sebuah nama, Rosselini. menatap ke arah pintu, menghela napas dan berkata pada diriku sendiri.

akankah pria pembunuh bayaran itu datang lagi?

aku pikir, mereka baru saja bercerai.

kenapa? kenapa mereka harus bercerai? kenapa harus meninggalkan cincin ini padaku?


Double Esspresso

sama seperti esspresso yang kubuatkan untuk pria pembunuh bayaran itu, kental dan pahit. itu mungkin yang ia rasakan.

aku memasukan cincin itu ke dalam jar kaca. lalu melanjutkan pekerjaanku.

Disclaimer | Situs ini dibuat oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) © 2008-2016 | Buku Tamu | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Laporan Masalah/Saran