Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDA Space Teens

Loading

Seandainya Saya Lupa Siapa Saya

in
andrea's picture

Bacaan:
Roma 5:8-11

Tetapi Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika
Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa. (BIS Roma 5:8)

Dua anak kembar memiliki perawakan yang begitu
serupa, sampai-sampai terkadang orang tidak dapat dengan mudah membedakan
mereka. Si kembar terlalu banyak
memiliki kesamaan kecuali dalam kehidupan mereka. Yang satu tumbuh menjadi
seorang pengacara besar dan terkenal – yang lain justru menjadi seorang pembunuh kelas kakap. Terlalu jahat dan
besarnya kesalahan yang dilakukan si pembunuh menyebabkannya masuk pengadilan dan
divonis dengan hukuman mati. Malam menjalang eksekusi tiba. Si penjahat menjadi
semakin gelisah karena ia akan segera menemui ajalnya. Di waktu bersamaan, kembaran
yang lain juga mengalami hal yang serupa. Ia begitu gelisah memikirkan tentang kematian
saudara kandungnya. Setelah memeluk isteri dan anaknya yang masih kecil, sang
pengacara itu bergegas pergi ke tempat tahanan. Tidak sulit bagi seorang
pengacara untuk masuk kedalam sel. Dengan pakaian hukum ia dapat masuk tanpa
pengawasan yang ketat. Di sel pengap dan bau itu ia bertemu dengan saudara
kembarnya. Saat-saat itu rasanya waktu menjadi terlalu sedikit dan jarum jam terasa berdetak terlalu cepat. Tidak
ada banyak hal yang dapat dipikirkan. Hanya saja dan dalam pertemuan singkat
itu, sang pengacara bergegas menukarkan pakaian yang dikenakannya.

“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau
lakukan Jack!”

“Ehhm… (menunduk sambil terus bergegas
menanggalkan pakaiannya) aku sangat mengasihimu Rick… dan aku melakukan ini hanya
karena aku percaya engkau akan menggunakan kesempatan ini…”

“Tapi…”

“Sudahlah… Segera keluar! (sambil
mendorong)”

Semuanya berlangsung begitu cepat sampai
tiba-tiba si pembunuh melangkah keluar dengan pakaian pengacara dan sang pengacara mondar-mandir di
dalam sel dengan baju tahanan.

Detik-detik eksekusi begitu mendebarkan. Seperti
biasanya, eksekutor memberikan waktu bagi orang hukuman untuk berdoa dan
menyampaikan pesan terakhirnya. Dengan terbata dan gugup tahanan itu mulai
bersuara,

“35 tahun saya menjalani hidup dan saya
sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya sudah cukup puas dengan hidup
saya, karena itu saya ingin memberikan hidup saya bagi seseorang di sana untuk
mendapat kesempatan memperbaiki hidupnya…”

Tidak seorang pun di tempat eksekusi yang
mengerti akan kalimat ini kecuali dia orang yang mendapat kesempatan itu – si
penjahat (maksud saya “pengacara”). Pelatuk ditarik… peluru menembus dadanya…
darah mengalir… hukuman dibayar lunas… kasih dinyatakan… kesempatan besar
diberikan… menunggu untuk diambil dan dilakukan…

Mungkin
kita sudah pernah mendengar kisah ini berulang kali… tetapi hari ini kalau
boleh saya rindu mengajak kita untuk sedikit berimajinasi dengan kisah ini.
SEANDAINYA… dalam kisah ini kita menempati peran si penjahat yang menyaksikan
orang lain di hukum mati karena kesalahan kita, bagaimana perasaan kita? Saya
yakin 2 perasaan terbesar yang akan kita alami adalah perasaan bersalah dan
perasaan berhutang. Merasa bersalah karena orang lain dihukum karena saya, dan
merasa berhutang karena orang lain membayar apa yang seharusnya saya bayar. Wajar
bukan?? Dan saya rasa memang seharusnya seperti itu.. Pertanyaan berikut,
SEANDAINYA… kisah ini ditulis kelanjutannya, bagaimana ceritanya? Apakah
penjahat ini akan berubah menjadi orang baik… atau tetap menjadi seorang
pembunuh? Saya rasa semua orang akan setuju kalau kelanjutan kisah ini akan menceritakan
tentang bagaimana kehidupan si penjahat yang telah berubah drastis… kita akan
menemukan sang penjahat yang telah berhenti membunuh… kita akan menemukan sang
pejahat yang sudah mencukur janggutnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian
yang bersih dan rapi… dan lebih dari itu, ia sudah menjadi orang yang baru. Mungkin
ia akan berdiri di mimbar-mimbar gereja dan menyaksikan, “Sisa hidupku sampai
hari ini adalah anugerah dari saudaraku dan aku akan memakainya dengan
sebaik-baiknya…” Dan saya rasa kalau si penjahat itu masih berani hidup asal
dan tidak berubah itu namanya benar-benar “tidak tahu diri!” (Seandainya kisah
ini kita putar menjadi sebuah sinetron dan kita menemukan penjahat itu tidak
berubah dan hidupnya tetap menjadi penjahat… wah kita pasti akan menjadi sangat
geram dan kesal.) Yah sekali lagi… itu perasaan yang logis dan wajar (karena
memang seharusnya itulah yang terjadi). Dan tunggu sebentar… bukankah kisah ini
adalah sebuah kisah yang begitu mirip dengan kisah kehidupan kita… Betul… ini
kisah kita bersama dengan Yesus. Kita penjahat ulung (memang tidak membunuh
tetapi bukankah kita suka membenci orang, kita tidak jahat, tapi bukankah kita berdosa,
menipu, melukai, tidak mau mengampuni, egois, pezinah dalam pikiran, pemboros
waktu, dst…) dan Yesus menggantikan posisi kita dalam eksekusi itu. Yah… itulah
kita. Dan benar sekali… Yesus melakukannya bagi kita karena Dia begitu
mengasihi kita dan Dia berharap kita mendapat kesempatan untuk menggunakan
hidup kita dengan lebih baik lagi. Bagaimana dengan respon kita setelah
menyaksikan kisah eksekusi di salib itu? Seharusnya eksekusi itu hukuman kita
bukan? Tetapi Yesus menggantikannya untuk kita. Kalau setelah kita melihat dan
menerima pengorbanan-Nya kita tidak berubah… itu namanya (maaf…) betul-betul “tidak
tau diri”. Tapi… sejujurnya kita semua memiliki kecenderungan menjadi orang
seperti ini. Banyak sekali orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi menjadi
orang Kristen yang “tidak tahu diri”. Ke gereja ya rajin, bahkan sibuk
digereja… tapi… yah… cuma sekedarnya. Pengorbanan itu tidak menjadi bagian
dalam hidup… hanya sebagai kisah di alkitab.

Di
tengah keheningan pribadi saat ini (hanya ada engkau dan Tuhan) kita memiliki
kesempatan untuk merenung sejenak… tentang salib… tetang hidup kita… mari
mengambil waktu barang 30 menit untuk kembali mengingat akan pengorbanan itu.
Dia benar-benar menukar baju-Nya untuk menggantikan hukuman kita! Dia
benar-benar menggantikan eksekusi kita! Dia sangat yakin kalau pengorbanan yang
Ia berikan itu akan kita terima dan gunakan dengan sebaik-baiknya. Yesus sangat
yakin… dan terlalu yakin hingga tekadnya begitu bulat untuk melangkah dan tidak
mundur di sepanjang via dolorosa. Ini saatnya bagi kita untuk berdiam dan menentukan
kisah kehidupan kita selanjutnya… mengerjakan kesempatan itu dengan lebih
sungguh-sungguh… mensyukuri dan menghargai perbuatan dan anugerah-Nya… atau
membuat pengorbanan-Nya itu menjadi hal yang konyol dan sia-sia.. Yesus betul-betul teramat sangat mengasihi-Mu
(Dia mengatakan dan melakukan-Nya)…

Sebenarnya penyakit kitalah yang
ditanggungnya, sengsara kitalah yang dideritanya, padahal kita menyangka
penderitaannya itu hukuman Allah baginya. Tetapi ia dilukai karena dosa-dosa
kita, dan didera karena kejahatan kita. Ia dihukum supaya kita diselamatkan,
karena bilur-bilurnya kita disembuhkan. (Yesaya 53:4-5 BIS)

Doa:
Tuhan… saya betul-betul merasa hidup saya terlalu kotor, penuh dengan dosa dan
tidak baik sama sekali. Tetapi hari ini saya kembali mengingat akan Kasih yang
selalu Engkau berikan untuk saya. Terima kasih karena Engkau memberikan kasih
itu bukan karena saya ini orang baik, tapi justru Engkau memberikan kasih yang
terbesar ini bagi saya orang berdosa yang paling membutuhkannya. Tuhan, malam
hari ini saya sekali lagi ingin memperbaharui tekad saya untuk hidup lebih
sungguh-sungguh lagi bagi Engkau. Saya tidak cukup yakin dapat melakukannya,
tetapi saya memohon kemampuan dari-Mu agar saya dapat mempersembahkan sisa
hidup saya ini hanya untuk melakukan yang terbaik yang saya bisa bagi-Mu. Terima
kasih Tuhan untuk salib-Mu. Tolonglah agar tanda salib di hidup saya akan
selalu menjadi bagian yang akan saya pikul dan beritakan… bahwa saya ini orang
berdosa dan Yesus menyelamatkan saya. Terima kasih Yesus… Amin…

Disclaimer | Situs ini dibuat oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) © 2008-2016 | Buku Tamu | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Laporan Masalah/Saran