Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDA Space Teens

Loading

Yang Kubenci Yang Kusayang

amelia's picture

Namanya Irin, kuakui aku tidak suka padanya. Aku benci melihatnya berjalan dengan canggung didalam rumah. Aku benci mendengar teriakan dan tawanya yang memenuhi rumah dari kamar ke kamar. Aku benci melihatnya mengotori baju dengan biskuit yang dimakannya. Aku benci menunggu giliran mandi sementara dia sedang bermain air di bak. Dan yang paling kubenci karena dia selalu merebut buku cerita yang baru dibelikan mama untukku.

Mama selalu membelanya, tidak pernah mama membantuku ketika dia mulai melipat halaman per halaman bukuku. Kata mama aku harus mengalah karena usiaku lebih tua. Akhirnya aku hanya bisa menerima nasib ketika buku itu kembali dalam keadaan rusak dan basah terkena air liurnya di beberapa bagian. Aku masih bersyukur jika tidak ada halaman yang robek. Pokoknya aku membencinya dan tidak menemukan satu alasan pun kenapa aku harus menyukainya.

Malam ini aku harus belajar keras, karena besok ada ulangan matematika. Di kelas aku bukan termasuk anak yang pandai, otakku pas-pasan. Itulah sebabnya kenapa aku harus merelakan waktuku untuk menonton televisi diganti dengan menghapal rumus-rumus matematika, supaya setidaknya aku mendapat angka enam di kertas ulanganku.

Pelan tapi pasti, dengan langkah canggungnya Irin masuk ke dalam kamarku.

"Jangan ganggu!" kataku kasar, "Sana sama mama aja!"

Kedua mata bulatnya memandangku dengan ketakutan. Bukannya merasa kasihan aku malah merasa senang. Senang sekali bisa menakuti mahluk yang paling kubenci di dunia ini.

"Kalau kamu berani masuk, kupukul kamu" ancamku.

Setengah berlari Irin keluar dari kamarku sambil menangis. Terdengar teriakan mama dari dapur mengomel panjang lebar mempersalahkanku karena membuat Irin menangis.

"Ah, masa bodo" kataku dalam hati sambil menutup kedua telingaku dengan bantal.

Lagu "Yellow"nya Coldplay kuputar lebih keras lagi.

****

Teriknya panas matahari siang ini melengkapi hariku yang menyebalkan. Dari lima soal yang diberikan aku hanya mampu menjawab dua soal dengan pasti.

Keadaan rumah sepi ketika aku sampai. Pagar dan pintu rumah tertutup rapat, walaupun tidak dikunci. Biasanya dari depan pintu Irin sudah berlari-lari dengan dot di mulutnya menyambutku. Mbak Ni-pembantu keluarga kami-juga tidak ada. Hanya ada sepiring nasi dan sop yang sudah agak dingin. Ada apa ini? Tidak seperti biasanya, mama belum pernah meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini.

Dengan perasaan bingung aku pergi ke kamar tidur, dapur, bahkan kamar mandi, tapi tidak ada siapapun di dalam rumah. Mau tanya tetangga sebelah, tidak enak. Maklum anak rumahan, jadi jarang keluar rumah. Kenapa juga kemarin mama menolak ketika diberi HP oleh om Rudy. Setidaknya bisa digunakan dalam keadaan darurat seperti ini.

Setelah makan seadanya dan mencuci piring, aku menyalakan televisi sambil mencoba menenangkan hatiku. Mungkin mama, mbak Ni, dan Irin, pergi ke pasar kemudian jalan-jalan di sekitar komplek. Dalam hati aku sempat merasa kesal karena mereka pergi tanpa mengajakku.

Sebuah taksi berhenti di depan rumah dan mbak Ni tampak turun dari dalam. Aku sudah bersiap-siap hendak marah karena mereka pergi tidak mengajakku. Tapi melihat cara mbak Ni tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah aku mengurungkan niatku.

"Ayo non ikut mbak Ni" katanya seraya mengambil tas sekolahku.

"Kemana mbak?" tanyaku

"Ke rumah sakit, tadi siang saya, nyonya dan non Irin tertabrak motor waktu pulang dari pasar"

Seluruh persendianku lemas mendengarnya. Aku tidak pernah mengira kalau mama dan Irin akan mengalami kecelakaan seperti itu. Betapa jahatnya aku karena telah berprasangka buruk terhadap mereka. Kulihat luka lecet-lecet di tangan mbak Ni, dan lututnya yang diberi obat merah. Masih segar luka di kakinya.

"Terus mereka sekarang gimana mbak?" tanyaku gemetar. Tenggorokanku tercekat dan suaraku hampir tidak terdengar.

"Nyonya sudah tidak apa2, non. Cuma luka ringan dan lecet, tapi non Irin, kasihan dia. Dari tadi menangis terus, kepalanya luka"

"Terus dokter bilang apa?"

"Saya kurang tahu non, tadi sudah telepon tuan. Sekarang tuan sama nyonya, makanya saya disuruh njemput non Rina."

Saat itu juga aku merasa seperti disambar petir, aku merasa langit runtuh menjatuhi kepalaku, aku merasa bumi berputar terbalik. Ketika tanganku ditarik oleh mbak Ni ke dalam taksi pun aku tidak berkata apa pun. Aku tidak tahu harus berkata apa, pikiranku kosong, otakku seperti berhenti berfungsi. Ini lebih sulit daripada pelajaran matematika, lebih mengerikan daripada menghadap guru BP yang paling galak di sekolah.

Dalam perjalanan ke rumah sakit aku tidak dapat menahan tangisku. Sepanjang jalan aku terisak-isak mengingat adikku yang semalam kuusir dari kamarku. aku menyesal sekali mengingat perlakuanku selama ini terhadapnya.

Kalau kuingat-ingat Irin tidak pernah benar-benar nakal padaku, justru dia adalah anak yang cerdas dengan rasa ingin tahu yang besar. Irin suka memberikan bakpao miliknya padaku, tapi di mataku bakpao itu seperti sisa makanan yang sudah berlepotan tidak karuan di tangannya yang kecil. Irin suka menarik rambutku bukan karena nakal, tapi karena sayang, karena dia juga ingin memiliki rambut seperti kakaknya yang jahat ini. Irin suka masuk ke kamarku bukan ingin mengangguku, tapi karena ingin berada di dekatku.

Kini aku merindukan tangannya yang mungil, kakinya yang berjalan canggung dan matanya yang bulat memandangku seperti mengagumiku. Tidak terbayangkan kini dia sedang kesakitan berada di rumah sakit. Jauh di lubuk hatiku aku menyadari bahwa aku sangat menyayanginya.

Satu hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan padaku adalah kehadirannya di dunia ini. Kalau aku boleh meminta, aku tidak ingin Tuhan mengambil hadiahku yagn ini. Jika aku diberi kesempatan sekali lagi, aku berjanji akan merawat, menjaga dan menyayangi hadiah ini baik-baik.

tribute to all my sisters

Syalom...

y2k's picture

Yup...Jesus selalu tidak terduga atas janji2 nya...

Saat manusia mulai merasa bahwa sesuatu yg berharga itu tidak terlihat...Tnpa tersadar, itu menjadi hal tang mungkin paling...Ehm..you know that. 

<- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

kadand-kadang

risna carly's picture

aq mengalami seakan hiidupku tidak berguna . kadang aq bertanya dalam diri sendiri kenapa sehh selalu cobaan menerpa diriku . dosa apa sehh yg aq perbuat terahadap Tuhan ??
dengan adanya pikiran tersebut kadang kala hati bimbang untuk ingin melakukan suatu pekerjaan salah satunya bekerja didalam tuhan .
napa?

<- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

@risna

karitos's picture

Salam kenal Risna,

Yang pasti sih Tuhan ga pernah mencobai umat-Nya meski Tuhan mengizinkan pencobaan itu mendatangi kita. Itu semua agar kita bertumbuh dan semakin dewasa. Jika kita ingin bekerja di ladang Tuhan itu karena kita mengasihi-Nya, bukan karena ingin hidup kita berjalan mulus. Karena ketika melayani akan lebih banyak cobaan-cobaan yang menghampiri. So, Risna, tetap bersemangat yah. Tuhan mengasihimu.

<- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

kata pendeta di gerejaku

Dedy Yanuar's picture

kata pendeta di gereja aku, mau jadi pelayan Tuhan tidak harus sekolah Alkitab dulu. bisa saja kita sambil belajar di sekolah kita menasehati teman2 kita yg nyontek.

bisa juga kita menasehati teman2 kita supaya mereka nggak malas ke gereja. kalau teman kita bilang malas, katakan "kalau boleh tahu mengapa kamu malas ke gereja?".

dll

kalau kita sekolah kita nggak pernah mau ikut ujian, mana mungkin kita bisa naik kelas.

begitupun kehidupan kekristenan kalau kita nggak ikut ujian maka kita nggak akan menjadi orang Kristen yang dewasa rohaninya.

Tuhan Yesus Cinta kita semua.

segitu dulu.

Dedy Yanuar

<- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Disclaimer | Situs ini dibuat oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) © 2008-2016 | Buku Tamu | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Laporan Masalah/Saran