Skip to main content

Pernah nonton film "my sister keeper"? Kalo belum, coba deh nonton. Keren loh. Hehe ... di sini saya nggak dibayar oleh pembuat film-nya, atau pemain-pemainnya kok :) (lagian, gimana mereka bisa bayar saya, kenal aja kagak :>), saya cuman mengemukakan pendapat saya sebagai penonton awam. Yah, biarpun di sini saya sedikit promosi, tapi boleh jugak loh, film ini dipake sebagai salah satu referensi tontonan kalo pas lagi senggang Laughing

Pertamanya, saya agak bingung juga sama jalan ceritanya, soalnya nih film saya donlut dari indowebster, dan belom ada terjemahan Indonesianya. Jadilah, saya nonton film ini dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang terbatas (--;)

Tapi setelah mengira-ngira (dan bolak-balik liat kamus) saya ngerti juga. Ceritanya, ada seorang cewek umur 10an taun, dan dia punya kakak yang menderita kanker dari kecil. Nah, si cewe 10 taun ini, kalo gak salah namanya Anna Fritzgerald, emang sengaja dilahirkan untuk jadi "penjaga" kakaknya yang sakit kanker. "Penjaga" di sini maksudna bukan jadi semacam baby sitter yang ngurus kakaknya, tapi lebih parah lagi, dia rela mendonorkan segala bagian tubuhnya, supaya sang kakak bisa bertahan hidup. Konflik mulai terjadi saat si adik "gak lagi rela" untuk jadi "keeper" sang kakak. Dia pun ngajuin surat ke pengadilan supaya dibebaskan dari keharusan untuk menjadi donor. Awalnya, saya sebel banget saat si adik memutuskan untuk gak mau jadi donor kakaknya. Di pikiran saya, "Dasar adik gak tahu diri! Sama kakaknya kok durhaka kayak gitu sih!!" (sambil berapi-api n keluar asap dari kepala, hehe lebay) Tapi akhirnya, saya tahu kalau si adik ngelakuin itu juga atas keinginan (dan paksaan) dari sang kakak.

Saat film-nya berakhir, saya sempet merenung sebentar. Gimana ya, kalau saya yang ada di posisi Anna Fritzgerald? Bisa gak ya, saya dengan tulus hati, rela mendonorkan bagian tubuh saya untuk kakak saya? Mungkin untuk jawaban "ya", saya akan mikir 100 kali. Bisa jadi akhirnya saya malah mengajukan tuntutan di pengadilan (berarti saya durhaka dong, ya :)) Soalnya, gak mudah lho buat jadi sesosok "pahlawan penyelamat" itu. Tappiiie, saya seperti diingatkan terhadap sosok Bapa kita (baca: Papa Jesus). Papa Jesus rela tebus dosa saya dengan mati di kayu salib. Dia gak cuman mendonorkan sebagian bagian tubuh-Nya, namun seluruhnya. Saya tahu itu pasti berat sekali dan banyak pergumulan. Namun, karena rasa cinta-Nya yang besar kepada saya (juga kalian semOa), Dia rela berkorban, dengan cara kematian yang paling hina pada waktu itu. Nah, aplikasinya ke kehidupan saya, saya mau berusaha untuk mengasihi dan berkorban untuk orang lain. Emang susah sih, soalnya sifat egois manusia kadang muncul; mau menang sendiri. Namun, saya mau terus belajar, belajar, dan belajar. Doakan saya, ya! Wink

Topik