Skip to main content

"Adik kamu hebat Lan." seorang dokter pria tiba-tiba mengatakannya kepadaku, ketika aku menunggu adik keduaku yang sedang sakit.

"Untuk anak lain dengan kasus yang sama dengan adikmu, mereka hanya bisa bertahan paling lama 2 tahun, namun adikmu bisa tetap bertahan hingga usianya 5 tahun. itu benar-benar sebuah mukjizat Tuhan.. ditambah lagi dia tetap gemuk, lincah, dan gesit."

aku hanya memberikan senyuman sebagai jawaban buat dokter itu.

sudah hampir seminggu adikku dirawat di rumah sakit. entah samapi kapan aku harus terus tidur di rumah sakit untuk menemaninya di sini. di dalam sebuah ruang isolasi khusu untuk anak-anak.

beberapa hari yang lalu, kondisi Bintang, adikku benar-benar mengagetkan. Dia bnagun dengan kondisi yang begitu parah. seluruh tubuhnya dipenuhi dengan bentol-bentol yang bukan lagi berwarna merah, namun sudah hampir ungu. bibirnya juga terus mengeluarkan darah. Suhu badannya juga tinggi sekali.

"ce, akit..." hanya itu yang keluar dari bibir kecilnya yang berdarah.  Juga diiringi dengan tangis kesakitan. entah seperti apa sakit yang dirasakannya,.. kondisinya benar-benar menyedihkan.

aku segera menghubungi keluarga Papa, dan hari itu juga, Bintang langsung dirawat di ruang isolasi anak.

di hari2 pertama, dia terus menerus menangis, merengek minta pulang. menangis karena merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya.

namun, bukan Bintang bila dia tak bisa kembali ceria. stelah mulai mengenal situasi rumah sakit, juga dokter dan suster-suster yang merawatnya, Bintang mulai kembali ceria lagi. Tawanya mulai terdengar lagi. Nafsu makannya pun kembali. bahkan dia menjadi lebih gemuk dengan nafsu makannya yang kembali besar.

namun, tangisnya selalu terpecah setiap kali dokter datang dan menyuntik kaki atau tangannya. memasukkan obat-obatan khusus yang bisa memperpanjang hidup Bintang untuk beberapa waktu,.. entah sampai berapa lama.

selama Bintang dirawat di rumah sakit, selama itu juga aku tinggal di rumah sakit. menemaninya terus. hanya kami berdua yang ada di sana. di ruangan isolasi.

 

kondisi Bintang terus membaik bahkan kulitnya yang sempat rusak seperti kulit orang yang terbakar, sudah kembali normal. seluruh tubuhnya kembali dalam kondisi normal. berat badannya naik, dan secara fisik, Bintang sudah seerti anak sehat lainnya.

 

Dengan cara Tuhan yang begitu cepat, (akan ada satu judul lagi untuk menjelaskkan) hari ini aku untuk terakhir kalinya enginap di rumah sakit. karena mulai besok aku akan tinggal di rumah bersama dengan keluarga baruku. orangtua, cece, dan adik yang baru. juga dengan kehidupan yang benar-benar baru.

malam terakhir bersama Bintang di rumah sakit, menjadi malam yang nggak terlupakan. entah kenapa, malam ini Bintang susah seklai tidur. dia terus mengajakku mengobrol. meskipun dengan kemampuan berbicaranya yang masih belum sempurna. Bahkan, di tengah malam, saat mengantarkan Bintang ke kamar mandi, dia minta dibelikan sate ayam yang memang selalu mangkal malam-malam di sebelah dinding rumah sakit.

jadilah aku dan Bintang membeli sate ayam tengah malam melalui langit-langit tembok. tubuh Bintang yang kecil, menjadi tampak lucu ketika memakai jaket jinsku. Bintang benar-benar bersinar malam itu. menjadi orang yang paling kusayangi yang masih diijinkan Tuhan ada di sisiku. setelah Dia, mengambil kedua orangtua yang begitu kucintai.

namun, setelah hari ini, aku nggak akan lagi bisa bertemu dengan Bintang. besok lusa, Bintang akan dibawa ke jakarta. semuanya karena rencana dari keluarga Papa. sejak mereka tahu aku telah mengambil keputusan untuk menjadi anak seorang pendeta yang mau mengangkatku sebagai anak, mereka menjadi sebuah keluarga yang aneh. bahkan semakin berusaha dengan keras untuk menjalankan rencana mereka untuk membawa Bintang ke jakarta. katanya, di sana dia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik atas penyakitnya. karena, meskipun kondisi fisiknya sudah kuat, bahkan berat badannya sudah mulai kembali, namun penyakitnya belum sembuh. bahkan penyakitnya tak akan pernah bisa sembuh. hingga sekarang, belum ada orang yang bisa menyembuhkan penyakit ini.

 

sayangnya lagi,.. saat Bintang berangkat ke Jakarta aku nggak bisa menemaninya. karena aku sudah harus mengikuti pelajaran di sekolah.

 

hari-hari baru tanpa Bintang menjadi begitu aneh buatku. apalagi di rumah yang baru, aku memiliki 4 orang adik laki-laki. semuanya sering kali mengingatkanku dengan Bintang.

tak ada kabar pasti yang bisa kudapat dari pendeta jakarta yang mengaku telah mengadopsi Bintang. hingga suatu sore, keluarga Papa menelponku dan memeberi tahu kalau Bintang telah meninggal dunia.

duniaku terasa hancur kala itu. semuanya hancur. bahkan aku tak bisa mengangis untuk mengungkapakan kesedihanku. kerinduanku yang luar biasa kepada Bintang, terjawab dengan melihat jenazah Bintang yang dibalut dengan baju rapi juga dikelilingi dengan boneka-boneka.

 

seketika itu juga, harapanku yang begitu besar untuk mengambil Bintang lagi, berkumpul lagi dengannya, semuanya hancur. semuanya dijawab oleh Dia. dan ternyata Dia tidak setuju dengan semua mimpi-mimpiku untuk kembali lagi dengan Bintang. untuk memeluknya lagi.

karena, ternyata Bapa lebih menyayanginya dibandingkan aku.

Dia lebih mengasihinya daroipada aku, maka Dia ingin agar Bintang menikmati hidup yang jauh lebih baik bersama Dia. dibandingkan Bintang dipaksakan untuk menjalani harinya tanpa seorangpun tahu bagaimana sebenarnya yang dia rasakan. daripada Bintang hidup, dengan virus yang terus-menerus menggerogoti tubuhnya.

 

terima kasih Bapa, untuk keputusanMu yang luar biasa..

terima kasih untuk kasihMu bagi Bintang..

Topik

Keywords