Sekarang ini, Jeff, adikku berumur 15 tahun. Ia sudah mulai dewasa dalam banyak hal. Termasuk bisa mengurus dirinya sendiri, walau terbatas.
Sejujurnya, karena kami sekeluarga bukan golongan yang hidup mewah dan berkelebihan, maka sedikit banyak perlakuan kami dengan saudara kami yang tidak beruntung ini sangat kurang. Di satu sisi karena kesibukan kami, dan di sisi lain karena seperti tidak ada harapan untuk masa depannya. Walaupun begitu, seringkali kami tersentuh dan dingatkan dengan kedewasaan dan cara ia bersikap kepada kami. Ia tidak pernah mengeluh atau rewel. Ia juga tidak pernah mengharapakan perlakukan kami yang istimewa baginya. Ia, sebaliknya meminta kami membantu dia untuk mandiri. Hanya itu. Tetapi bagimana caranya?
Beberapa tahun yang lalu ia sudah belajar membaca dan ia sudah bisa melakukannya dengan baik dan mandiri. Karena kami berpikir bahwa keterampilan itu juga tidak begitu bermanfaat, maka kami mengusulkan kepadanya untuk menjadi seorang penasehat ata setidaknya bisa berbicara dengan baik. Langkahnya, ia harus dibacakan banyak buku, menyelesaikan bacaan Alkitab, mendengar banyak khotbah, ceramah atau pidato dan ia juga harus mendengarkan siaran-siaran dokumenter dan radio; dalam berbagai bahasa.
Tentang aku sendiri, Felice, sekarang usiaku hampir 17 tahun. Terima kasih karena ada di antara para blogger yang perhatian dan menyarankan aku untuk membuat blog sendiri. Aku ingin melakukannya, tetapi aku sudah terlanjur berada di bawah bayang-bayang adikku, Jeff. Sekarang aku ingin membantu dia saja dulu. Mungkin suatu waktu, ketika aku sudah bekerja dan mampu membayar seseorang yang bisa membantu adikku untuk berkarya, terutama menyalurkan bakatnya, baru aku memikirkan saran itu lagi. Sekarang ini, aku sedang memikirkan masa depan adikku ketika sudah dewasa nantinya. Entah akan bagaimana nasibnya?
Aku juga telah menyempatkan diri membacakan kisah-kisah yang disarankan oleh para blogger buat Jeff. Pesan Jeff, "banyak terima kasih." Ia selanjutnya mengatakan, "Ia hanya berpikir, bahwa siapa pun manusia yang pernah mengingat dia, 'itu adalah malaikat' bagiku. Karena, kata Jeff, ia tidak pernah melihat manusia, sebaliknya ia sering menjumpai malaikat dalam mimpinya." Terima kasih.
-------------------
Aku, Felice ingin menceritakan pengalamanku dengan ibukuku dalam sebuah peristiwa, yang mana, Jeff menegur sikap aku dan ibuku. Kisahnya seperti ini:
Suatu ketika ada seorang pengamen menyanyi di depan teras rumah kami. Waktu itu ibuku menegur pengamen itu seraya berkata, "tiap hari ngamen di sini, tdak ada duit sekarang!". Pengamen itu pergi dan ibuku kembali melanjutkan kegiatannya. Waktu itu, aku, Felice, sedang duduk-duduk menonton TV.; ibuku juga berada disana. Di teras depan, Jeff sedang duduk sendiri. Entah apa yang sedang ia pikirkan?
Setelah mendengar, ibuku berkata demikian kepada pengamen itu, ia masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu di mana aku dan ibuku juga sedang berada di sana. Ia bertanya, "Itu tadi siapa, mih?" "Pengamen", jawabku dan dan ibuku serentak. "Pengamen itu apa?", Jeff bertanya lagi. Secara gamblang ibuku menjawab, "Pengamen itu adalah orang yang malas bekerja dan hanya mengharapkan pemberian dengan cara menyanyi di depan orang-orang." "Apakah mereka orang seperti aku?", tanya Jeff. "Ada beberapa di antaranya kekurangan, tetapi kebanyakkan mereka adalah orang-orang yang sehat", kata ibuku. "Apakah pengamen tadi orang yang cacat?" Tanya Jeff. "Ibu tidak tahu! Tetapi kelihatannya dia sehat." "Kenapa ibu tidak memberi uang tetapi menolaknya? Kata Jeff. "Kita tidak punya uang", kata ibuku. "Apakah pengamen itu hanya meminta uang?" Tanya Jeff. "Tidak!", kata ibuku.
"Bu, aku memang tidak bisa mencari uang atau membeli barang-barang berharga, tetapi aku tahu karena sering mendengar bahwa pengamen itu meminta sedikit saja dari kita. Aku pernah mendengar lima puluh perak atau seratus Rupiah. Selama ini aku tidak pernah meminta uang kepada siapa pun, ibu bisa memberikan sedikit saja bagianku itu kepada mereka. Kalau kita tidak punya uang, selama ini aku tidak pernah makan makanan sampai semua persediaan habis, jadi, ibu bisa memberikan sedikit makanan kita hari ini kepada mereka. Jika tidak ada uang dan makan, berikan mereka pakaian, selama ini aku hanya ganti pakaian dua kali sehari, itu pun hanya pakaian tertentu saja, jadi, ibu bisa memberikan sapu tanganku untuk pengamen itu." "Jeff, pengamen itu hampir tiap jam ada di depan rumah kita", Kata ibuku. Jeff, menjawab, "Jika ada pengamen yang datang ke rumah kita lagi dan meminta sesuatu, berikan aku, Jeff, untuk menjadi teman dalam kesusahan mereka dalam berusaha."
Mendengar jawaban Jeff tersebut, aku, Felice dan ibuku terdiam seribu bahasa. Kemudian kami minta maaf kepadanya mengatakan sesuatu, "Kita dan pengamen sama-sama mengharapkan rejeki." Kami segera menghentikan pembicaraan itu. Dan beberapa saat kemudian, terdengar tembang seorang pengamen di depan rumah kami. Tentu, aku, Felice dan ibuku tidak menyerahkan adikku yang malang itu untuk menjadi pengikut para pengamen, sebaliknya kami belajar membagi rejeki kami. Itulah yang kami lakukan jika ada orang yang tidak beruntuk mengharapkan apa yang labih dari kami. Kami yakin, nasehat Jeff, adikku itu benar, bahwa kalau kami tidak punya apa-apa, pasti tidak ada seorang pun yang berencana meminta apapun dari kami, termasuk recehan lima puluh perak. Tetapi ketika kami memiliki seseuatu, bahkan seringkali lebih, maka kami wajib berbagi. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Jeff, ketika ia ingin bergabung dengan pengamen itu?
Terima Kasih,
Felice