Siang itu kebaktian telah selesai, namun tidak menyurutkan antusias orang-orang untuk belajar tentang tradisi dan agama Yudaisme. Setelah selesai mengajar, Yesus dan murid-murid pun duduk di kursi tempat duduk jemaat di samping podium. Dari situ mereka bisa melihat bagian depan Bait Allah tempat diletakkan peti persembahan.
Berbagai macam manusia hilir mudik memasukkan uang persembahan mereka ke dalam suatu peti. Tampillah seorang pengusaha yang berpakaian lenan halus. Kehadirannya segera disambut senyum ramah dari penatua rumah ibadat. Sang pengusaha pun memasukkan satu kantung kulit uang dengan aksi slow motion (biar kelihatan dramatis). Sementara itu muncullah seorang nenek yang memakai pakaian kejandaan yang lusuh. Kehadirannya tidak ada yang menggubris. Sambil menundukkan kepala, ia memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan.
“Ting..’’ terdengar suara uang dua peser yang bergemerincing lirih. Memang peti persembahan didesain memiliki mulut berbentuk seperti terompet. Sehingga tangan tidak bisa masuk. Akibatnya siapapun jadi bisa tahu berapa yang dipersembahkan seseorang berdasarkan dentingnya. Sang nenek pun bergegas pergi dengan rasa malu karena merasa persembahannya tidak bernilai.
Yesus berkata kepada murid-muridnya, “Lihat nenek itu, ia memberi lebih banyak daripada semua orang di sini”
“Bagaimana bisa, Guru? Bukan kah ia hanya memberi dua peser?” tanya seorang murid.
“Nenek tersebut memberi dari kekurangannya. Aku bisa merasakan iman dibalik kebingungannya setelah ia mempersembahkan seluruh nafkahnya. Apa yang hendak ia makan setelah itu.. Nenek itu telah memberikan seluruh cintanya. Ia percaya Allah akan menerima persembahan itu” Yesus menjawab
Sejenak suasana hening, para murid hanya menatap tiang-tiang Bait Allah.
“Jadi mempersembahkan hati kita lebih berharga daripada semua harta di dunia?” sahut seorang murid yang lain.
"Yup.." Yesus pun menatapnya teduh sambil tersenyum.
Sobat, demikian tadi reka adegan ketika Yesus memperhatikan seorang janda miskin di Bait Allah. Kisah yang singkat, namun bener-bener memberikan inspirasi bagiku dalam melayani Tuhan. Persembahan sebesar 2 peser (seduit) senilai harga untuk 2 ekor burung pipit (mat 10:29). Secara nominal benar-benar tidak berarti dalam pembangunan infrastruktur Bait Allah.
Namun Tuhan tidak melihat nominal pemberian janda miskin tersebut. Demikian pula Tuhan tidak menilai dampak langsung dari usaha kita untuk menyenangkan Dia. Namun Ia menghargai seberapa persen hati kita dicurahkan dalam tiap usaha kita.
Aku juga teringat kisah Miguel dari Mexico. Ia hanya tinggal bersama ibunya yang miskin. Suatu saat ia memperoleh uang sepuluh sentavo (mata uang Mexico yang paling kecil). Ia memilih untuk mengurungkan niatnya membeli celana demi menyumbang pembangunan gereja. Uang tersebut hanya cukup digunakan untuk membeli engsel. Namun hal yang menarik, apalah artinya sebuah gedung gereja yang besar jika tidak ada engsel pintu untuk keluar masuk jemaat? Hehehe..
Satu hal yang perlu ditambahkan, bahwa Tuhan paling jago dalam membalikkan keadaan. Jika seakan usaha kita sekarang tidak berarti. Tuhan bisa mengubahkan jadi berdampak luar biasa kelak. Mungkin hanya doa yang bisa kita lakukan. Namun lakukan itu sepenuh hati. Seperti kepakan kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas jika dilakukan secara serempak dan kontinyu. Kekuatan doa bisa membukakan tingkap langit sehingga terjadi mukjizat besar.
Mungkin suatu saat kita pernah merasa terbatas dalam melayani Tuhan? Ato bahkan merasa pelayanan kita gagal alias ga ngefek? Ingatlah bahwa sebenarnya Ia melihat hati kita. Tetaplah semangat. Katakan, “Tuhan 100% hati ku untuk Mu!!!”