pelayan, hamba, berbeda dengan pekerja, dengan buruh, dengan upahan, dengan bawahan.
pelayan, bukan orang yang bekerja untuk mengaharapkan bayaran. begitulah seharusnya.
tapi,.. sebuah profesi/panggilan yang harusnya menjadi tugas mulia, menjadi tidak mulia lagi, karena sebuah selimut pelayanan yang dipakai.
jumat kemarin, aku dan Papi datang ke kantor kecamatan untuk mengurus surat pindah. hanya sebuah tanda tangan yang kubutuhkan untuk memiliki surat pindah dan menyelesaikan semuanya. pemberian tanda tangan hanya berjalan beberapa menit, namun setelah itu, si ibu itu berkata dengan sikap yang biasa "mbak, tolong dibantu administrasinya" lalu ibu itu juga menyebutkan harga yang harus dibayar.
tanpa banyak bicara, Papi langsung memberikan uang yang diminta dan mengajakku pergi.
"lhat Nov, kayak gitu yang namanya pelayan masyarakat."
aku hanya tersenyum. namun, dalam hati, Tuhan mengajariku secara pribadi.
melalui pelayan masyarakat yang minta dibayar dan dihargai, aku justru mengingat pelayan-pelayan Tuhan yang lain.
tak jarang, selama ini, orang2 yang menganggap dirinya seorang pelayan, bahkan dengan bangga membawa label hamba Tuhan, pelayan Tuhan,..
namun masih memikirkan penghargaan dan imbalan yang diterimanya. masih memikirkan kepopuleran yang dimiliki.
hamba, pelayan, yang tidak memiliki hati sebagai seorang hamba ataupun pelayan.
padahal, ada seorang yang begitu besar, yang memiliki jabatan tertinggi, justru datang untuk melayani tanpa pamrih, tanpa harapan atas imbalan, bayaran ataupun penghargaan sedikitpun.
bahkan dia rela mengorbankan segalanya hanya untuk taat dan patuh akan tugasnya...
tanpa bayaran sepeserpun, tanpa penghargaan yang diterima, bahkan yang ada dia disiksa dan dicela.
ternyata, bagi sebagian orang, pelayan atau hamba, justru adalah sebuah profesi atau pekerjaan yangdijadikan alat untuk mendapatkan pemenuhan diri sendiri..
pelayan, yang masih memakai selimut kepentingan diri dan penghargaan diri sendiri.
apakah kita sebagai orang percaya, orang yang memiliki Yesus dalam diri kita,..
juga memilki selimut yang sama dengan mereka ???
bagaimana pelayanan yang kita lakukan??
bagaimana sebenarnya hati kita dalam melayanai dan menjadi pelayan bagi Dia??
apakah ada selimut yang kita pakai??atau masih tersisa kain tipis yang menutupi ketulusan hati kita dalam melayani???
jangan sampai kita membuat Dia menangis...