Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDA Space Teens

Loading

Double Esspresso - In His Presence

minmerry's picture
There can be such sweet reward
When we wait upon the Lord
As we take the time, he give us his perfect wisdom
To be found in Him alone,
All our deepest secrets kwnon,
we're surrounded by his grace
When we seek his face
 
Aku menyerahkan@Double Esspresso pada Hayden malam ini. Kunci
sudah diserahkan padanya. Lampu mana yang boleh dimatikan dan mana yang
tidak, Hayden sudah menghapal dengan baik. Hayden dengan senang hati
menerima tugas itu. Jika malam ini espresso yang dibuat Hayden berbeda,
semoga itu karena esprssonya lebih enak dari buatanku, tentu saja.
 
Dengan sedikit tersenyum, melambai pada Hayden, aku mengambil tas dan keluar.
 
Angin menyambutku, saat aku membuka pintu. Mengabaikan perasaan
dingin, aku melangkah di jalan setapak dengan santai. Masih ada satu
jam menuju pementasan.
 
Drama.
 
Siapa tidak suka drama?
Aku suka. Drama, tentu saja.
 
 
Sutradara, pemain, kostum, naskah.
 
Naskah, itu juga. Hm... sedikit mendesah, karena terlalu
bersemangat, bertanya-tanya dalam hati, akan seperti apa naskah malam
ini diwujudkan?
Naskah penuh dengan detail. Penandaan dengan tanda kurung,
karakter, simbolic.... Semua seolah seperti satu kesatuan yang memiliki
jiwa.
 
Celana scretch yang kupakai terasa enak saat aku melangkah. Kemeja
putih bersih, dan sebuah rompi yang manis. Ada  simpul pita dibagian
belakang rompi. Sangat adorable.
 
Saat aku melewati etalase-etalase toko, dan bayangan diriku
terpantul dari kaca etalase, aku menatap diriku, dengan mengangkat
kotak besar dengan cangkir-cangkir espresso didalamnya untuk para
pemain drama, uhm....soal rompi yang manis tadi...aku berharap, semoga
tidak ada yang menganggap aku sebagai pelayan.
 
Team drama itu benar-benar sudah bekerja keras.
Semangat itu menular, aku mengingatkan diriku. Aku senang. Senang
melihat semangat mereka, dan aku belajar dari mereka. Mereka selalu
datang ke @Double Esspresso. Aku suka mereka.
 
Aku tiba 30 Menit sebelum acara dimulai. Walau sudah hampir 4
bulan menetap di Pearl City, aku tidak pernah ke gedung ini. Gedung
megah tempat pementasan. Tangga yang berjejer rapi dari setiap sisi,
menuju ke ruangan utama. Karpet merah yang ramah menyambut tamu. Tidak
seperti gedung yang angkuh dan mahal, gedung ini bersahabat dan nyaman.
 
Dengan sedikit gugup dan bingung, aku bertanya pada petugas di sana, dimana para pemain berkumpul.
 
Aku menemukan, mereka berada tidak jauh dari hall utama, semua
sedang Finishing Touch untuk rias, kostum, Mike, dan lain-lain.
Suasananya campur aduk. Dengan diam, dan berusaha untuk tidak
diperhatikan mereka, aku mengulurkan cangkir demi cangkir espresso pada
mereka satu persatu. Aku senang mendapatkan wajah mereka berseri-seri
menerima espresso-ku.
 
Sang sutradara sempat terkejut dengan kedatanganku. Caranya
menatapku, membuatku sedikit berdebar-debar. Kamu bukan cinderella,
Keira. 24 Wajah Billy mengingatkanku... Tentu saja aku bukan
Cinderella, jika boleh memilih, aku tetap memilih Hello Kitty dari pada
Cinderella.   
 
Dan dengan diam-diam melangkah keluar dari ruangan mereka, menuju
kursiku. Aku bertanya-tanya kursi mana tempat aku berada. Aku tidak
membawa kaca mata karena beriman akan mendapat tempat duduk yang di
depan. Oke, oke, aku akui, soal kacamata, aku lupa. Soal iman, lupakan
saja.
 
 
Dalam hati aku tertawa, aku mendapat duduk tepat ditengah. Aku
bisa melihat semua sisi pangung, tapi tidak mampu melihat sampai pada
mata pemain. Aku mudah puas, begini aku sudah bersorak-sorak dalam hati.
 
Seperti jam yang sudah dijanjikan.
Lampu langsung dipadamkan.
Gelap.
 
Suara riuh yang teredam dalam ruangan, senyap seketika saat lampu dimatikan.
 
Masih Gelap.
 
Saat itu, aku menemukan indera-inderaku bekerja dengan sempurna. Mata melihat kedepan, duduk dengan rileks. Mendengar. Berpikir.
 
Seorang gadis kecil keluar. Dia melangkah, berputar. Bahagia sekali.
 
Aku tersenyum.
 
Sekelilingnya berwarna ungu, sama seperti gaun yang dia pakai.
 
Dan lampu dari atas seolah menunggu kedatangan seseorang. Tanpa tanda, isyarat, suara lampu menggeleggar. Spontan. Dia datang.
Dia. Yang ditunggu. Dia dalam warna putih. Sosok agung, sosok yang begitu dekat dengan gadis kecil itu.
 
Dia mengatakan, semua adalah milik gadis kecil itu. Gadis itu
begitu bebas. Dia berpesan ini semua milik gadis kecil itu, semua
pesannya adalah naskah kehidupan gadis kecil itu.
 
Harus dipatuhi, dalam kebebasannya.
 
 
 
Dia berada disisi kiri.
 
 
 
Sebaliknya,
Disisi kanan, ia datang. Mencekam, ia yang tidak disambut dengan
cahaya. Tapi penuh pesona. Memikat. Ia datang dengan tahta
kegelapannya. Putra mahkota kegelapan, muncul, meloncat, penuh pesona,
namun jatuh dengan lutut membentur lantai dihadapanNya.
 
Dihadapan Dia. Putra mahkota kegelapan perlahan bangkit berdiri dan menatap wajahNya dengan penuh kebencian.
 
Aku bertanya-tanya, kenapa Putra mahkota kegelapan begitu memikat. Aku terpikat olehnya. Gadis kecil itu juga.
 
Dia mempertahankan gadis kecil itu.
 
Dan Dia kehilangan gadis kecil itu. Dia sedih. 
 
Gadis kecil itu membiarkan Putra mahkota kegelapan merampasnya
dari Bapanya? Gadis kecil itu takut, dan bingung. Pesona Putra mahkota
kegelapan, sekali lagi. Apakah terlalu kuatkah pesonanya?
 
Dia disisi kiri dengan sinar penuh kemuliaan menatap datar sang
Putra mahkota kegelapan, dan Putra mahkota kegelapan disisi kanan
melihat Dia dengan penuh kebencian.
 
Soundtrack berdebum, suara kebencian Putra mahkota kegelapan.
Nyanyian pujian Putra mahkota kegelapan untuk mengumumkan
kemenangannya. Putra mahkota kegelapan menatap Dia dengan penuh
kebencian. Dan gadis kecil itu jatuh, Putra mahkota kegelapan
mengangkatnya dibahunya. Membawanya pergi.
 
Aku diam tak bergerak menatap semua permainan simbol naskah.
 
Lampu cahaya kemuliaan masih bersinar menerangi-Nya. WajahNya
begitu murka, sedih, dan suara yang dikeluarkanNya untuk memanggil
gadis kecil itu, terdengar pilu. Bukankah kemenangan ada dipihakNya?
Dan sinar, cahaya yang menerangi-Nya perlahan redup.
 
Aku ingat, ada yang berkata, menunggu adalah waktu yang terbaik.
Aku ingin naik ke panggung, merampas kembali gadis kecil itu.
 
 
Tapi diriku mengingatkan, jatuh. Jatuhlah gadis kecil. Rasakan
kesakitan itu, dan saat itu kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.
 
Gadis kecil mulai mengenal penyiksaan, kelaparan, sengsara. Gadis kecil sendirian. Dia harus melahirkan.
 
Berjalan.
 
Inilah penderitaan.
 
Tidak ada pintu yang dibukakan bagi gadis itu.
 
 
Hujan. Ditengah panggung. Tanpa ampun.
 
Pesona kegelapan begitu memikat, begitu menghayutkan...
 
 
Sometimes I wonder..... 
Air sungguh sungguh mengalir deras membasahi gadis kecil itu
dengan kejam. Tak terampunkan, sakit dihatinya, penyesalannya. Bayangan
orang-orang berbaju hitam melewati panggung dengan payung hitam.
Melewatinya. Dengan indah. Ayunan lembut payung, tidak ada yang
memperdulikan Gadis Kecil itu. Berbalik, berjalan. Gadis itu
berkata-kata, dia kedinginan. Hujan terus mengguyur, isak tangis Gadis
Kecil itu semakin terdengar. Musik semakin membawa pikiranku pada
kegelapan. Sang Putra Mahkota Kegelapan menertawakan dirinya. Dia diam. 
 
 
 
PULANG!
Aku berteriak dalam hatiku pada gadis kecil itu, PULANG!
 
Sudah cukup, PULANG.... Aku memohon untuknya.
 
Hujan berhenti... Dan semua lampu dipadamkan...
 
Tirai diturunkan.
Secepat itu tirai diturunkan, secepat itu pula tirai dinaikkan.
 
Gadis kecil itu berjalan, terjatuh.
 
Ya Tuhan dia ingin pulang, kataku dalam hati.
 
Sang Putra Mahkota Kegelapan menghakiminya. Dengan cepat meniupkan
pasir, badai yang menghambat gadis kecil itu. Dengan indah, beberapa
bayangan berlari, menari melemparkan pasir pada gadis kecil itu. Terus
dan terus. Menginginkan keputusasaan hati gadis kecil itu.
 
 
 
Dan sinar kemulian itu muncul dengan megahnya. Dia berdiri, tidak berubah sedikitpun. Menyambut kepulangan Gadis kecil.
 
 
Aku melihat Dia menatap keatas, menuju cahaya. Memikirkan sesuatu.
Dia mengatakan sesuatu, tidak terdengar. Penuh rahasia. Memeluk gadis
kecil itu dengan erat.
 
Soundtrack terputus dengan dramatis. Dia dan gadis kecil bersama, berdiri dalam cahaya itu. Cahaya putih, sejati. Hangat.
 
In your presence there is confort,
In your presence there is peace,
When we seek to know your heart,
We will find such blessed assurance
In your holy presence, Lord.
(In His Presence - Song performed by Sandi Patti in the album Make His Praise Glorious)
 
 
Dan aku menyambutNya dalam hatiku.
 
 
and ever open door
To know our savior more,
In the presence of my Lord.
(In His Presence - Song performed by Sandi Patti in the album Make His Praise Glorious)
 
 
Gadis kecil itu sudah pulang, dan tidak akan pergi lagi.
 
 
 
 
Aku melompat dari tempat dudukku. Memberikan tepuk tangan...
 
 
O Lord... There is none like You. I whispered...
 
 
Aku diam berdoa saat mereka bertanya siapa yang terpanggil.
Panggilan yang sangat wajar. Sudah melihat, mendengar, aku tidak sabar
ingin merefleksikan. Aku merasakan acungan tangan. Namun aku ingin
lebih dalam berdoa.
Hingga lampu hall seluruhnya dihidupkan.
 
Selesai. Aku menghela nafas yang sejak tadi kutahan...
 
Aku berjalan, keluar dari hall. Banyaknya orang yang berlomba
ingin lebih dulu pulang, membuatku menunda langkah kakiku. Aku keluar
dari Hall. Duduk disisi tangga.
 
 
Bukan Keira namanya jika tidak melamun. Aku rasa aku melamun cukup
lama, hingga saat aku melihat sekelilingku, sudah sangat sunyi. Sudah
sangat malam.
 
Aku bangkit dan mulai melangkah.
 
Malam selalu dramatis, kota ini selalu dramatis.
 
'Ehm...'
 
Suara dehaman itu membuatku memalingkan tubuh.
 
'Pulang? Boleh bareng?' Tanyanya.
 
Dia. Ehm, bukan. Bapa. Maksudku, dia-sang sutradara. Sang sutradara yang menjadi Dia. Berperan sebagai Dia dalam drama tadi.
 
Cinderella, Keira. Tuh kan....
 
Aku yakin sekarang dia mengira aku alzheimer, karena menatapnya dan tidak berkata apa-apa.
 
'Tidak, i think?' Sutradara mengernyitkan kening.
 
'Ya... Ehm, maksud aku, tidak.'
 
Dia tertawa.
 
Dengan gugup aku melanjutkan, 'Maksudku, boleh jika sejalan.'
 
'Tidak, tidak sejalan. Begini, aku ingin mengantar kamu.' Sutradara menatap mataku.
 
'Jangan....'
 
Dia mengeryitkan dahi lagi.
 
'Maksudku, jangan lihat aku seperti itu.'
 
Dia tertawa.
 
'Aku lewat sini, sutradara...'
 
Dan ia berjalan disampingku.
 
'Glass.' Dia mengulurkan tangannya. 'Namaku, Glass.'
 
Aku menyambut tangannya, dia melanjutkan sebelum aku menjawab, 'Keira, ya, aku sudah tahu.'
 
'Kamu mengawasiku, Sutradara...'
 
'Hmm, benar... Aku mengawasimu. Bukan sebagai pemain drama, tentu saja.'
 
Aku tidak menatapnya. Aku tahu wajahku memerah.
 
Dia tertawa.
 
Dia mengantarkanku hingga depan pintu,
 
'Glass, drama yang bagus... It's time to go home, menurut kamu?' Tanyaku.
 
'No, you have already at home. You re safe now.' Glass menepuk bahuku. 'Espressonya, aku ketagihan.'
 I saw her dreams come true
Dia mengucapkan selamat malam, mengharapkan aku bermimpi indah.
 
 
Aku masuk dan menutup pintu.
 
Jangan mudah terpesona, Keira... Dan aku tertawa.
 
Sungguh nyaman. Pulang, beristirahat. Pulang. Rumahku. Di dalam rumah ini.., dan waktuku berputar.
 
Inilah rumahku saat ini.
 

empty

Menukar baju, memilin rambut dan membuat cepol yang manis. Aku duduk
menikmati segelas frappe. Menatap Pearl City dari jendela kamar.

Glass. Aku menatap gelas yang sudah kosong didepanku. 

Inikah perasaan gadis kecil itu?

Benarkah aku sudah pulang?

Atau Pangeran Kegelapan itu sedang menertawakan kemenangannya atas ketersesatanku? 

Siapa yang menunggu kepulanganku?

 

In the quiet of this hour
As we kneel before you now
I believe your promise to be faithful
I don't always understand
What your perfect will demands,
But I learned to trust you more
In your presence, Lord.

(In His Presence - Song performed by Sandi Patti in the album Make His Praise Glorious

Disclaimer | Situs ini dibuat oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) © 2008-2016 | Buku Tamu | E-mail: webmastersabda.org
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Laporan Masalah/Saran